Tampilkan postingan dengan label cerpen gue. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen gue. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Oktober 2011

Seorang buta untuk suami anakku

Seorang buta untuk suami anakku
Oleh: efendi ( Razan_zahir )



Ia sering melamun di teras rumahnya. Memandangi burung-burung yang bermain saling berkejaran. Hinggap di dahan-dahan pohon mangga nya yang sudah berbunga.Daun-daunnya bergoyong terhempas tubuh seekor burung yang bersembunyi di balik rindangnya. Suasana begitu sepi, tidak terlihat lagi anak-anak bermain kelereng di halaman depan mungkin dikarenakan hari yang sudah beranjak menuju malam.


“Yah, ini teh nya” ucapan syahrah membuyarkan lamunannya.


Syahrah adalah anak perempuannya satu-satunya. Setelah kematian istrinya, maka tinggal ia sendirilah yang harus menjaga anak semata wayangnya itu. Usia syahrah sudah terbilang matang untuk seorang gadis dapat segera menikah. Membangun bahtera rumah tangga dan segera memberikan seorang cucu buatnya yang sudah mulai renta agar suasana yang sepi di rumah ini dapat tergantikan tawa dan keceriaan anak-anak. Namun, hingga sekarang belum juga ada seorang pemuda pun yang datang melamar anak gadisnya itu. Hal inilah yang menjadikan kegusaran berkecamuk di hati nya. Kekwatiran orang tua terhadap kebahagiaan anaknya, Ia takut kalau sampai anak gadisnya menjadi perawan tua.


“ayah sedang memikirkan apa?” tanya syahrah. Setelah menyuguhkan minuman, ia tidak beranjak masuk melainkan duduk menemani ayahnya.


“ayah sedang memikirkan kamu nak…” ia menarik napas panjang seperti ada sesuatu yang menyempitkan rongga pernapasannya. Di serutnya sedikit-sedikit teh manis yang dibuatkan untuknya.


“jangan terlalu ayah pikirkan. Allah pasti akan menunjukkan jodoh yang terbaik untuk syahrah” ungkap syahrah yang mengerti apa sebab kegelisahan yang mengganggu di pikiran ayahnya.


Bukan nya tanpa usaha, jalan perjodohan pun pernah dilakukan. Beberapa kali saudara-saudaranya pernah membawa lelaki untuk dikenalkan kepada syahrah. Namun setelah pertemuan, tidak ada seorang pun diantara pemuda-pemuda itu yang datang kembali untuk melanjutkan silahturahmi. Ya.. mereka menolak syahrah.


“maaf… sepertinya saya tidak akan cocok dengan anak gadis bapak” seperti itulah ucapan yang terlontar dari mereka.


Penolakan pemuda-pemuda itu bukan nya tanpa alasan. Mereka mungkin saja terkejut setelah bertatap muka dengan syahrah.
Ya.. wajah syahrah memang tidak cantik, ia mengalami cacat pada bentuk wajahnya sudah dari lahir, meski begitu ia tidak pernah marah atau benci setiap ada oarang yang merasa jijik atau mencibir dirinya. Sedari kecil ia sudah terbiasa mendengar ejekan dari orang lain. Wanita jelek, orang aneh, si buruk rupa, bahkan ada yang menyebutnya dengan kata-kata yang lebih tak enak lagi untuk di dengar.


“biarkanlah yah.. itu hak mereka untuk menjauh. Semoga Allah selalu memberi ketabahan buatku”


**
Suatu kali datanglah seorang ibu dengan menuntun seorang pemuda yang gagah. Namun ternyata ia seorang pemuda buta. Pemuda itu kehilangan penglihatannya sebab kecelakaan yang pernah di alaminya.
Meskipun buta, pemuda tersebut terlihat begitu sopan. Sebelumnya ia adalah seorang pengajar di sekolah dasar, namun setelah penglihatannnya hilang maka saat ini ia bekerja seada nya, bahkan menjadi seorang tukang pijit.


“adapun maksud kedatangan saya adalah untuk melamar anak gadis bapak sebagai isteri buat anak lelaki saya ini. Rahman, namanya” ucap sang ibu mengungkap maksudnya.


Si ayah terdiam. Ia menimbang-nimbang di dalam hatinya. Matanya memandang kepada syahrah yang sudah duduk di sampingnya setelah selesai menyuguhkan teh. sepertinya ia tidak mampu memberikan jawaban yang tepat di saat hatinya sedang gelisah. Haruskah ia menikahkan anaknya dengan seorang yang buta. Apakah memang sudah tiada pemuda lain yang mau menerima kekurangan anak gadisnya itu.


“syahrah anakku…. Ku serahkan semua keputusan padamu”


Syahrah dengan nada bicaranya yang lembut menjawab.
“bilakah ia memang tulus melamarku. Maka tidak ada alasan bagiku untuk menolak. Semoga dirinya adalah jodoh terbaik yang di berikan Allah”


“bilakah benar engkau menerima, maka katakan lah Mahar apa yang kau inginkan?” ucap Rahman.


Syahrah dengan tenangnya berkata.
“pinang aku karena Allah, sanjung diriku dengan lantunan ayat suci Al Qur,an, hadiahkan padaku sebuah mukena dan bimbinglah aku dengan keimananmu”


**
Acara pernikahan dilangsungkan sebulan kemudian. Dengan sederhana dan bernuansa kekeluargaan yang kental. Setelah pernikahan, desas-desus di kalangan masyarakat pun mulai tersebar dan sungguh tidak enak di dengar.


“pasti sudah tidak ada lagi yang menyukainya. Maka nya orang buta pun diterima” begitulah parau suara di masyarakat.


Syahrah tidaklah memperdulikan perkataan dan cibiran orang terhadap keluarga dan dirinya. Baginya, menjadi seorang isteri yang baik untuk suaminya adalah tugas yang lebih mulia, tak perlu mendengar pendapat masyarakat terhadap keluarganya. Namun lain halnya dengan ayahnya, ia masih saja merasa ada kekwatiran. Walau terkadang rasa kekawatiran itu menghilang tatkala ia melihat anaknya begitu bahagia dan sepenuh hati melayani suaminya. Jauh di dalam hatinya, sesungguhnya dirinya juga merasa bahagia karena memiliki menantu yang Alim dan sayang kepada anak gadisnya itu meskipun menantunya itu hanyalah seorang yang buta.


Matahari mulai tengggelam. Cahaya nya dari balik pohon mangga sudah mulai menghilang. Disaat seperti ini, ia pasti sedang bersantai di beranda duduk menikmati suasana sore dan kali ini di temani syahrah. Menantunya yang buta sedang beristirahat di kamar.


“assalamualaikum…” ucapan salam terdengar dari halaman. Seorang pria berjalan menghampiri mereka.


“waalaikumsalam.”


“Abdul… silahkan masuk” ucapnya.


Pria tersebut adalah Abdul, paman dari suaminya syahrah. Ia bekerja sebagai pedagang dan tinggal jauh di luar kota. Setelah mempersilahkan duduk, mereka pun saling bercakap-cakap.


“gimana usaha mu, lancar kah?”


“alhamdulillah pak, lancar.”


Setelah berbincang sedikit. Selain untuk bersilahtuhrahmi, Abdul pun mengungkapkan maksud kedatangannya


“saya datang kemari untuk megajak Rahman ke kota. Ada teman saya, ia seorang dokter specialis mata. Saya ceritakan tentang kondisi mata Rahman padanya dan menurutnya, penglihatannya bisa di pulihkan kembali”


Raut wajah si ayah berubah. Ia seperti orang yang sedang kebingungan, ada sesuatu yang merisaukan hatinya.


“masalah biaya, biar saya yang menanggungnya” tambah Abdul.


Ia masih saja diam. Dalam kepalanya berhamburan prasangka dan kekhawatiran. Bagaimana tidak! Jika sampai menantunya bisa melihat lagi. Tentu saja ia akan dapat melihat wajah syahrah anaknya . Ia kwatir nanti menantunya itu akan menceraikan Syahrah dan meninggalkannya seperti pemuda-pemuda lain.


“tidak usah lah di dengarkan. Paling hanya harapan-harapan kosong yang mereka berikan” ucapnya berusaha mempengaruhi Abdul.


“ijinkan lah yah… bila memang ada harapan untuk suamiku bisa melihat. Maka biarkan mereka mencobanya, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tidak berputus asa” sahut syahrah dari arah pintu. Ia berjalan sambil membawa minuman.


“tapi…”


“syahrah mengerti ke khawatiran ayah. Aku pun menginginkan yang terbaik buatnya, Alhamdulillah bila suamiku bisa melihat kembali”potong nya.


Kembali ia hanya bisa terdiam. Ia mencoba menyakini perkataan anak perempuannya itu. Walau perasaaan kwatir masih saja berkecamuk di dalam kepalanya.


Tiba-tiba menantunya yang buta itu sudah ada di di depan pintu. Muncul dengan tergopoh-gopoh dan menjadikan dinding sebagai pemapah dan penuntun jalannya. Dengan sekejap syahrah menghampiri suaminya itu, kemudian di tuntunkannya ke kursi.


“dari tadi aku sudah mendengar pembicaraan kalian. Aku mengerti kerisauan ayah.” ia diam sejenak menarik napas panjang, “bagiku… dialah wanita tercantik. Meski mataku tiada melihat namun hatiku sunguh merasa. Ketaatan dan kepatuhannnya kepada Agama dan suaminya, menunjukkan padaku pekertinya yang baik. apalagi yang dicari seorang pemuda selain istri yang soleha. Apapun yang terjadi! Aku takkan melepas Syahrah”


Ia sungguh terkejut, mengetahui menantunya itu telah mendengar pembicaraan mereka sedari tadi. Ia masih tak sepenuhnya yakin dengan perkataan Rahman meski dia tahu kalau menantunya itu termasuk anak yang Alim. Namun apakah benar bila kelak menantunya itu dapat melihat kembali maka ia tidak akan meninggalkan istrinya yang tidak lain adalah anak gadisnya yang buruk rupa.


“bagiku, ia selayaknya Gaharu kehidupan, bakarlah.. maka mewangian di dalamnya akan semerbak menenangkan hatimu” tambah menantunya.


*
Senja terganti malam. Mata-mata terkantuk dalam lelap, semua manusia terhanyut dalam mimpi dan ketenangan hati. Kecuali dirinya, ia masih saja belum tertidur memikirkan prasangka dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada anak gadisnya esok hari. Kemudian tanpa sadar sekejap saja matahari sudah muncul kembali.


“hati-hatilah kalian di jalan. Semoga Tuhan menunjukkan hidayahnya”


Sebelum Zuhur mereka berangkat. Syahrah ikut menemani suaminya untuk berobat ke kota. Terik matahari menemani, kendaraan mereka perlahan hilang di ujung jalan dan Ia tetap berdiri melepaskan kepergian mereka dengan harapan bila kelak operasi mata itu berhasil maka ia meminta agar Tuhan tidak memutar balikkan hati menantunya itu.


Matahari terus bergantian berjaga dengan bulan, sudah sering kali bundaran merah di angkasa itu melangkahinya. Detik berganti menit pertanda waktu takkan pernah menunggu.Ia menatap pada jalan setapak menuju rumahnya, menantikan anak dan menantunya pulang dari berobat di luar kota. Rasa kegelisahan dan kekhawatiran terus saja membayanginya. Bilakah operasi mata itu berhasil, akankah masih ada menantu buatnya.
Apakah benar menantunya itu takkan meninggalkan istrinya apabila ia telah melihat?
Apakah….?
Ya, begitulah kekhawatiran selalu muncul dalam kepalanya seperti awan mendung yang terus menjatuhkan hujan.


Baru sesaat melayangkan pikir, derap kaki diatas tanah kering berkerikil membuyarkan segala lamunannya.
Ia bangkit dari tempat duduk nya. Menatap pada sepasang manusia yang berjalan ke arahnya. Aroma syurga semerbak kala itu, betapa cahaya yang begitu pesona muncul dari belakang tubuh mereka. Ya, menantunya telah pulang dengan menggenggam erat tangan syahrah. Betapa rona bahagia terlihat dari raut wajah mereka. Senyum itu mengembang seperti bunga yang sedang menikmati musim semi nya.


Sejurus angin yang mendesir di dekatnya, sebentuk suara lembut menggema di telinganya.
“Ayah, subhanallah… karena Allah telah membukakan kembali kedua mata suamiku tanpa menutup mata hatinya”


(kandang kancil, 2 oktober 2011)

Kamis, 18 Agustus 2011

Pandang ia kala tidur, kau kan tau sebuah rahasia

Kedua jarum penunjuk waktu sudah saling bertemu di pertengahan. Rembulan benar-benar berada di puncak langit memandangi sebagian dari manusia yang masih saja terjaga.

“dari mana nak?” tanya seorang ibu yang dari tadi menunggu anak bungsunya, walau sampai terkantuk-kantuk dan tak menyadari kalau setetes demi setetes darahnya telah dijarah oleh yamuk-nyamuk yang terus hiruk-pikuk di sekitarnya.

“dari rumah andra” andi masuk kedalam kamar kemudian keluar lagi sambil mengenakan sweater hitam, “malam ini aku akan menginap di rumah andra”

“ngapain nak, nanti ayahmu marah” tergurat sedu di wajah seorang ibu yang mencoba menahan langkah anaknya untuk beranjak keluar.
Ibu memahami benar watak suaminya. Ayahnya tidak suka kalau anak-anaknya sering berkeluyuran malam-malam. Apalagi sampai menginap di rumah orang tanpa ada alasan yang jelas.

Andi berhenti, membalikkan badannya dan menatap ibu yang berdiri di belakangnya.
“kenapa dirumah ini, aku merasa seperti di batasi” andi menggerutkan dahi “aku kan sudah dewasa!”tambahnya.

Ia berbicara seolah mengerti benar tentang kedewasaan dan makna kebebasan yang sebenarnya ia baca dari coretan-coretan di tembok dalam gang rumahnya.
Sebuah makna yang harus juga ia ketahui cara menyikapinya.
Sesaat kemudian, suara deru roda bergumal dengan kerikil dan dentuman kayu-kayu tua penyangga gerobak telah menghentikan debat ibu dan anak.
Suaminya pulang, ibu memahami jelas derap langkah kaki itu.

“assalamualaikum”

“waalaikumsalam” ibu menyahut salam.

Ayah masuk dengan wajah lesu. Tampak jelas kalau ia sangat lelah sekali. Ibu membantu membereskan dan membawa masuk sisa dagangan yang tidak habis terjual.
“mo kemana di?” ayah menatap pada andi yang sedang berdiri di depannya.

“aku mau nginap dirumah andra malam ini”

“tidak usah! buat apa kau bertandang dirumah orang. seperti nggak punya rumah aja”

Ayah melarang keinginan andi apalagi ketika ia mendengar nama andra. menjual makanan keliling adalah pekerjaan ayah. Mungkin karena itu, Dia tau benar masalah-masalah yang sering dibicarakan oleh orang-orang kampung, terutama tanggapan orang tentang andra yang dikenal berperangai kurang baik. Pernah beberapa kali warga melihatnya berpesta minuman keras bersama teman-temannya yang berasal dari luar kampung.

“kalian semua sama saja! Aku seperti di penjara dirumah ini” andi meninggikan suaranya.

“kau!!…” suara ayah terputus dan tak sadar tangan kanan nya sudah terangkat sejajar dengan kepala hendak menampar andi.

Namun hal itu urung dilakukannya. Andi berbalik dan berjalan masuk ke kamarnya. Entah sengaja atau tidak, pintu kamar berdentum cukup keras sempat mengejutkan ibu yang hanya mampu mengusap-usap dada. Ayah hanya berdiri tertagun mencoba menahan emosi yang saat itu merongrong di kepala. Kakinya terasa begitu lemas seakan kehilangan daya untuk mengangkat berat tubuhnya, dengan tergopoh-gopoh ia merebahkan tubuhnya diatas tikar yang sudah tergelar di ruang tamu.

Andi mengumpat di dalam kamar, beberapa kali genggaman tangannya dipukul-pukulkan ke bantal sebagai pelampiasan kekesalannya.

***
Khairul melangkah masuk lewat pintu belakang. Di pagi seperti ini, biasanya ibu telah bangun untuk menyiapkan sarapan dan bersiap berangkat ke pasar untuk belanja keperluan rumah dan dagangan ayah nanti.

“sarapan nya apa bu?” khairul menghampiri ibu yang sedang merobek bungkus mie instant.

“kau sudah pulang rul, sebentar lagi mie rebusnya siap” ucap ibu pada anak lelaki kedua nya yang baru saja pulang dari piket malam sebagai satpam disebuah perusahaan swasta. Khairul masuk keruang tamu dan mendapati ayahnya yang sedang tertidur di ruang tamu. Ia kembali ke dapur dan menghampiri ibu yang sedang mengangkat mie rebus yang telah matang.

“ayah kenapa tidur di ruang tamu bu?” Khairul menarik sebuah kursi dan mendudukinya.

Ibu meletakkan mangkuk yang di genggam nya ke atas meja makan. Ia duduk dan menceritakan segala hal yang terjadi malam tadi pada Khairul. Mendengar segala cerita dari ibu nya dan melihat air mata itu jatuh membasahi pipi seorang ibu sungguh membuatnya tidak tenang. Serasa tak mampu di telannya mie yang telah di hidangkan di atas meja. Namun emosi yang merasuk masih tetap mampu dikendalikan olehnya.
Ibu berangkat ke pasar setelah membuatkan segelas teh manis untuknya. Dengan segelas teh manis hangat, Khairul mencoba menenangkan diri.

Andi sudah bangun. Dia berjalan menuju ke kamar mandi
melewati Khairul yang sedang duduk di meja makan.

“ndi, sini sebentar” Khairul memanggil nya, sesaat setelah ia keluar dari kamar mandi,
“kau berkata kasar ya sama ayah?”

“enggak ah…” jawabnya dengan tertunduk.

Khairul adalah abang yang paling dia segani. Di bandingkan abang sulung nya yang telah menikah dan sekarang tinggal di luar kota.

“kau tak usah menyangkal. Ibu sudah menceritakan semua nya sama abang” Khairul menunjukkan tatapan serius.

“Taa…pi..” andi belum sempat menyelesaikan ucapannya...

“karena sikapmu, sampai ibu menjatuhkan air mata nya” ucap Khairul memotong.

Andi hanya terdiam dan menundukkan kepala saja.
Khairul beranjak dari tempat duduknya dengan langkah yang agak dipelankan, ia mengajak Andi menuju keruang tamu
Khairul menunjuk pada ayah yang masih tertidur.

“kau lihat wajah itu.. kenalkah kau siapa dia?” ucap Khairul dengan suara yang sedikit dipelankan.

“tentu saja aku tau, itu kan Ayah” jawab Andi yang bingung dengan maksud pertanyaan yang di lontarkan oleh abangnya.

“kalu begitu, sanggupkah kau melihat air mata menetes membasahi wajah itu. Sanggupkah kau mengusir senyuman dari bibir itu dan sanggupkah kau berkata kasar di hadapan dia yang kau panggil Ayah”

Andi terdiam, seperti ada sesuatu yang masuk kedalam dada nya. Menusuk-nusuk di jantungnya dan perlahan mendaki ke atas kepalanya.

“kau lihat tangan itu… berapa kali kau menciumnya”
Andi tak mampu menjawab dan juga tak mampu memalingkan pandangannya. Ia terus menatap pada Ayahnya yang masih tertidur.

“dengan tangan itu, ia sudah memelukmu berkali-kali. Membangkitkanmu berkali-kali ketika kau terjatuh. Mengajarimu tentang hal yang belum kau ketahui dan berkali-kali menuntunmu kembali pada jalan yang sebenarnya disaat kau hampir salah jalan”

Andi mulai tak kuasa menahan gejolak yang menyesak di dada dan perlahan mencoba mendesak keluar dari matanya. Menahan perasaaan itu membuat wajahnya memerah.

“kau lihat kaki itu… pernah kah kau memijatnya”

Sekali lagi andi tidak mampu menjawab. Lidahnya serasa kaku dan membatu, tiada kata yang bisa terucap dari mulut ini ketika sebuah jiwa dilanda perasaaan bersalah.

“Dengan kaki itu, ia mengayuh pedal becak bertahun-tahun, berkeliling desa hanya untuk keluarganya. Bertahun-tahun memikul beban dengan berpijak hanya pada kedua kaki itu… kaki itu…”

Air mata jatuh di pipi Andi. Membasahi nurani dan hatinya yang sempat kering. Hasratnya serasa ingin menggenggam kedua tangan pria yang sedang tertidur di hadapannya. Berucap kata maaf dan menangis di pelukkannya. Namun ego masih saja menjadi pengganjal, membuatnya tak mampu melakukan itu.
Andi berjalan ke kamar meninggalkan Khairul yang berdiri di sampingnya.
Ia tak menahan langkah Andi, seakan ia menyudahi kata-katanya.
Khairul tau benar….
Kalau Andi sekarang telah memahami maksud dari perkataan yang di ucapkan pada nya.Air mata yang menetes di pipinya sebagian tanda dari luapan rasa bersalah.


kandang kancil.18 agustus 2011

Rabu, 23 Maret 2011

KU BELI MIMPIMU


Wajahnya masih terlihat seperti memikirkan sesuatu. Selama perjalanan pulang dari sekolahan, Andi masih saja melamun.
Tiba-tiba ia menepuk bahu pak Khodir.
“apa pak Khodir pernah bermimpi?”
Pak khodir yang sedang menyetir pun terkejut.
“ya.. tentu saja pernah” jawab pak Khodir dengan diikuti tawa kecil.
“memangnya kenapa?”tambahnya lagi.
“apakah semua orang pernah bermimpi?” tanya Andi lagi, seolah tak mendengarkan pertanyaan pak Khodir.
“semua manusia di dunia ini pasti pernah bermimpi, apalagi anak remaja seumur kamu”ucap pak Khodir.
Andi terdiam, mencoba menerka-nerka di dalam kepalanya.
‘mungkinkah hanya ia manusia yang tidak pernah bermimpi atau giliran untuk dia bermimpi sedang di tangguhkan. Mungkin juga mimpi-mimpi buatnya telah dicuri oleh orang lain’
Pak Khodir menghentikan laju mobilnya di perempatan, menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.
Andi menurunkan kaca mobilnya, melepaskan pandangan kesekitar jalanan.
Tampak olehnya orang-orang tua berpakaian lusuh sedang meminta-minta, anak-anak dekil sebayanya yang mengamen serta ada pula yang berlarian menjajakan koran.
“apakah mereka pernah bermimpi pak?” tanya Andi sembari menunjuk kearah luar.
Pak Khodir menoleh.
“justru mereka lah yang paling banyak memiliki mimpi”
Andi terdiam sejenak, lalu memanggil salah satu anak jalanan yang berada dekat di samping mobilnya.
“hai kamu! Ikutlah denganku sebentar”
Anak jalanan itu dipanggil ‘Begol’ oleh teman-temannya. Ia terlihat bingung dengan permintaan anak didalam mobil mewah itu.
“aku akan memberi kamu uang, jadi cepatlah masuk!”tambahnya lagi.
Mendengar hal itu, Begol pun segera bergegas masuk kedalam mobil tersebut.
Pak Khodir tak mampu berbuat apa-apa terhadap permintaan anak majikannya tersebut.

*
Sampailah dirumah, Andi mengajak Begol masuk kedalam. Terlihat raut bingung dan takjub diwajahnya, tak menyangka akan bisa menginjakkan kaki di rumah yang besar dan megah itu.
“ini seperti di mimpiku…” ucap Begol polos.
“apakah kau pernah bermimpi seperti ini?” tanya andi.
“tentu saja, aku memimpikan hal seperti ini disetiap malam”
“terus… mimpi seperti apalagi yang pernah kau dapati?” tanya Andi lagi, penasaran.
“Aku memimpikan semua hal, karena begitu banyaknya sampai kantung mimpiku seakan tak lagi muat untuk menyimpannya” Begol diam sejenak.
“mungkin kalau ada yang ingin membeli mimpi, maka aku akan menjual semua padanya” tambah Begol lagi.
“aku yang akan membelinya!” sahut Andi.
Begol terkejut dan hanya tersenyum tak menanggapi serius ucapan Andi.
“orang tua kamu dimana?”tanya Begol, merasa kalau rumah yang begitu besar terlihat sunyi.
“orang tua ku berada diluar negeri mengurusi perusahaannya. Jarang sekali pulang kalau pun pulang pastinya larut malam dan besoknya sudah berangkat kembali” jawab Andi dengan nada rendah.
“bagaimana kalau mimpimu aku yang beli!” pinta Andi lagi.
Begol terdiam, menyadari kalau ucapan Andi sungguh-sungguh.
“kau tak perlu membeli mimpi dari orang-orang kecil seperti kami. Rumah besar, mobil mewah, pakaian mahal, makanan enak, bisa bersekolah dan semua hal yang kau miliki sesungguhnya itulah mimpi-mimpi yang selalu hadir di tiap tidurku. Aku selalu merasa senang bila tiba saatnya bermimpi, tapi aku juga merasa kecewa bila tiba saat nya terbangun. karena harus menyadari kalau semuanya tidak lah nyata” Begol menjelaskan.
“tapi aku ingin merasakan memiliki mimpi sendiri?” ungkap Andi.
Suasana hening sejenak.
“aku akan memberitahukanmu rahasia untuk mendapatkan mimpi”
“apa itu?” tanya Andi serius.
“setiap kali kau akan tidur, luangkan waktumu sejenak untuk memikirkan hal-hal yang membuatmu bahagia dan hal-hal yang kau harapkan kan terjadi di esok hari”jelas Begol.
Andi terdiam mencoba memahami perkataan Begol.
“baiklah.. sekarang aku akan pulang. Terima kasih telah membawaku kerumahmu” ucap Begol.
“terima kasih juga, biar pak Khodir yang akan mengantarmu” balas Andi.

*
Malam pun tiba.
Andi melaksanakan apa yang di beritahukan Begol tadi siang. Setelah ia menutup mata, mimpi pun hadir menghampirinya.
Dalam mimpi, orang tua nya datang dan memeluk dirinya, menemani nya disepanjang hari, membuatkannya makan, bertanya bagaimana keadaannya, mengajaknya jalan-jalan serta berjanji tidak akan membiarkannya sendirian lagi dirumah. Semua hal indah yang di inginkannya terjadi di malam itu. Andi sungguh bahagia.
Namun dikala matahari tiba, semua sirna seolah hampa belaka. Andi pun memahami mengapa begol membenci kata terbangun ketika kebahagiaan hanya teraih di dalam mimpi saja.

Kamis, 10 Februari 2011

hukum disuap jadi sulap


Hukum seperti permainan sulap dikala ia disuap. Sesuatu yang seyogya nya salah, dapat di ubah sekejap saja menjadi benar. Aksi para pesulap hebat pun dimainkan dalam menaklukkan hukum. Tak banyak yang dapat dilakukan rakyat kecil di negara ini saat orang-orang berduit dan berjas hitam memainkan aksinya. Kita hanya mampu menonton pertunjukkan yang mereka suguhkan.
“mmm… pertunjukkan hebat yang mengorbankan rakyat sebagai penonton yang dipaksa menahan perih dibalik ketakjuban!”

Bagaimana aksi pesulap hukum yang mampu mengambangkan suatu kasus besar tanpa ada penyelesaian. Semua dibuat bertanya-tanya
“bagaimana bisa?”
“siapa yang salah?”
“bagaimana akhirnya?”
Mungkin mereka terinspirasi atas aksi Illusionis Criss Angel yang mampu berjalan diatas air. Rakyat pun dibuat takjub tapi mereka tak bertepuk tangan, hanya mengelus dada atas sikap para penegak hukum.

Lain lagi aksi pesulap hukum yang satu ini. Bagaimana kehebatannya yang mampu melenyapkan uang rakyat yang diamanatkan kepada nya. Tanpa tirai hitam, hanya menggunakan telepon untuk melobi dan sebuah tanda tangan abstrak maka semua uang bisa beralih tempat kedalam kantongnya yang sebesar brankas.
Tak hanya itu, aksi menembus temboknya juga adalah salah satu aksi yang ramai dibicarakan. Ia mampu keluar dari penjara bertembok bata dan berjeruji besi lalu berkeliling dunia dan akhirnya kembali tanpa merusak gembok dan tembok.
Sungguh aksi yang menakjubkan dan menghinakan hukum dinegara ini. Mungkin saja dia adalah David Copperfield masa kini.

Bagaimana pula aksi pesulap hukum yang lain lagi. Seperti wanita ini, ia mampu bertahan hidup dan berkegiatan tak seperti seorang narapidana lainnya. Penjara yang selama ini dianggap sebagai neraka dunia, kini mampu dibuatnya menjadi tempat tinggal yang nyaman. Ia bisa mendapatkan fasilitas mewah seperti perawatan kecantikan, kulkas, ac, toilet duduk yang bersih, kasur yang empuk bahkan dapat mengadakan rapat mingguan. Semua itu sungguh berbeda dengan apa yang didapat oleh narapidana wanita lainnya yang harus menikmati ruang penjara yang lembab dan toilet yang seadanya bahkan harus berbagi tempat tidur dengan tikus gelandangan.
Mungkin saja pesulap wanita yang satu ini mendapatkan pelatihan dari Magician Criss yang mampu bertahan walau dikubur hidup-hidup didalam tanah.


Aksi bertukar tubuh juga merupakan aksi terbaru para pesulap hukum. Bagaimana aksi sulap yang dengan mudah mengganti dirinya yang seharusnya di dalam sel dengan tubuh orang lain yang tidak bersalah.
“di kemanakan hukum itu?”
Mereka hanya tersenyum sambil mengibaskan jubah dan menghilang begitu saja.
Ketakjuban akan kehebatan mereka, sempat membuatku bertanya
“apa rahasianya?”
“itulah sulap, jika kau tau rahasianya maka bukan sulap lagi namanya” jawab mereka.

Ironis sekali aksi para pesulap hukum negeri ini. Rakyat dipaksa membeli tiket hanya untuk menyaksikan pertunjukkan pedih. Setiap kali para pesulap hukum itu beraksi, maka berulang kali rakyat tersakiti. Uang rakyat yang seharusnya buat makan keluarga, mereka curi sebagai upah atas aksi sulap yang merea suguhkan.

hakekat di kerajaan bundar

Hingar bingar di sebuah istana yang tinggi menjulang di langit , berada di atas hamparan negeri kekuasaan raja MATAHARI yang di kenal tegas dan wibawa.
Dari balik gerbang istana terdengar suara gaduh yang tak lain berasal dari kerumunan penduduk yang saling berdesakan untuk dapat masuk kedalam istana dan menemui sang raja.
Masing-masing mereka telah membawa berbagai keluhan yang sudah di pikul jauh dengan berjalan kaki, hanya untuk sekadar mengadu kepada baginda besar raja MATAHARI pemimpin negeri atas apa yang sedang mereka alami.
Muncul dihadapan raja, salah seorang hulubalang kerajaan menyampaikan sebab kegaduhan yang terjadi di luar gerbang istana.
“ Sujud hamba yang mulia, adapun sebab kegaduhan yang terjadi di luar istana adalah kerana banyaknya penduduk yang berdesakan ingin masuk untuk bertemu dengan baginda raja sekedar menyampaikan keluhan mereka” Lapor hulubalang.
“ Wahai pengawalku, ijinkan mereka masuk menemuiku satu persatu dimulai dari penduduk pelosok wilayah tertimur kerajaanku” Titah sang raja.
Hulubalang pun segera melaksanakan titah sang raja.

Dihadapkan kepada sang raja seorang penduduk dari wilayah tertimur kerajaannya.
“ Sujud hamba yang mulia, hamba adalah BAKAU. Mulanya kami adalah rumpun penduduk yang berdiri tegak di pinggiran pantai dengan tangan-tangan kami menjalar Jauh merasuk kedalam endapan lumpur hingga mampu menahan ganasnya terjangan ombak lautan. Rimbunnya rambut hijau kami menjadi naungan tempat tinggal para tetangga untuk dapat berkembang biak. Namun ketenangan dan kedamaian kami mulai terusik sejak hadirnya pendatang baru yang menamai diri mereka MANUSIA.
Senyum dan keramahan mereka membuat kami mau menerima keinginan mereka untuk menjadi tetangga baru kami. kami pun dengan rela berbagi segala makanan dengannya. Tapi keegoisan dan ketamakan telah membuang jauh rasa terima kasih mereka. Mereka mulai mendirikan kotak-kotak besar di tanah kami, menyembelih habis sanak saudara serta mengusir pergi tetangga-tetangga baik kami, hanya demi kata yang mereka teriakkan ( PEMBANGUNAN!!)” Keluh bakau.
Raja pun termangu dengan tatapan haru dan sedikit kekecewaan.

Dihadapkan kenbali kepada raja, seorang penduduk dari wilayah tengah kerajaannya.
“ Sujud hamba yang mulia, panggil hamba SUNGAI. Kehidupan kami mulai tak tenang dengan hadirnya pendatang baru yang pada awalnya baik dan menyenangkan. Kami sediakan bagi mereka makan dan minum dari usus kami, namun mereka balas dengan menyumpalkan sampah dan limbah di mulut kami.
Mata kami jadi tak sejernih dahulu, kini pekat dan berbau. Rongga dada kami tak luas lagi kini sesak dan sulit bernapas. Terlalu seringnya kami menangis hingga terkadang kering dan tragis” Keluh sungai.
Sang raja terharu dan lebih kecewa.

Masih dari wilayah tengah kerajaannaya. Dihadapkan lagi seorang penduduk.
“ Sujud hamba yang mulia, nama hamba TANAH. Remuk rasanya tubuh ini menahan bobot mereka, belum lagi harus menahan berat dari kotak-kotak raksasa yang terus mereka bangun lebih tinggi,banyak dan menumpuk. Tak cukup dengan tinggal dan makan dari hasil apapun yang mereka tancapkan di tubuhku. Kini mereka menguak dan mengobok-obok apa yang ada di dalam perutku. Walau darahku muncrat dan bersimbak menenggelamkan apa yang hidup diatasnya, tak jua membuat mereka sadar” Keluh tanah.

Dihadapkan lagi salah seorang penduduk dari wilayah barat kerajaannya.
“ Sujud hamba yang mulia. Hamba adalah HUTAN, seperti nama yang diberikan kepada kami, hijau dan rimbun. Namun kini tiada lagi kehijauan yang tampak serta kerimbunan yang menjadi tempat tinggal tetangga-tetanggaku. Karena adanya mahkluk dengan pemotong mesin yang bersuara berisik di tangan mereka. Satu persatu saudaraku di penggal hingga jatuh terkapar tiada berdaya. Tetanggaku pun tiada mampu membela, hingga sebagian dari mereka diburu dan di perjual belikan. Kini rimbun tiada lagi, semua telah menjadi lahan kosong tempat kami terkubur mati” Keluh hutan.

Satu persatu keluhan penduduk telah didengar sang raja.
Raja MATAHARI pun bangkit dari singgasananya dan berdiri tegak dihadapan penduduknya dengan tatapan panas membara terlukis di matanya.
“ Telah kudengarkan keluh dan kesah kalian wahai penduduk kerajaanku. Sekarang kembali lah ke tempat tinggal kalian masing-masing. Tunjukkan kepada mereka kemarahan kalian, tenggelamkan mereka kedalam lautan, hanyutkan dengan air kalian segala apa yang mereka bangun. Rubuhkan kotak-kotak raksasa mereka dan kubur hidup-hidup dengan tanahmu jasad serta segala yang mereka banggakan. Biarkan penghuni hutanmu memakan dan mencabik-cabik daging mereka.
Agar mereka tau arti kemarahan kalian. Bila itu tak jua menyadarkan mereka, maka kan ku bakar mereka sekejap menjadi abu seperti halnya hati mereka yang sudah dibakar habis oleh ego dan ketamakan!!” Titah sang raja.

kunang-kunang pulau seberang



Belum juga ia turun dari atas gedung rumah bertingkat itu. Matanya masih berair, duduk sembari mengelus betisnya yang merah menyala. Sesekali terdengar sedu, menahan perih dari dera yang terpahat dikulitnya.
Pandangannya menerawang jauh menembus kelamnya malam tanpa rembulan, tapi tak mampu menembus hitam dari hitamnya hati mereka sang penyiksa.
Dermaga itu….
Tampak gagah dengan mercusuar yang menjulang kelangit gelap.
Menjelma menjadi impian yang sulit tersentuh. Mencoba berlari melompati pagar tapi sungguh tak ada daya, pagar rumah itu lebih tinggi dari harapan yang pernah ia iktiarkan saat pertama kali melangkah turun di pulau ini.
Hanya segenggam harapan,semoga dipulau ini ia bisa merubah kehidupan menjadi lebih baik. Tak banyak pilihan pekerjaan yang ditawarkan padanya yang hanya seorang perempuan yang tak lulus SMP.

Seberkas sinar kelip-kelip perlahan mendekati
“wahai manusia, apa yang sedang kau lakukan di atas sini?”
“aku sedang bersembunyi dari segala dera dan siksa yang menantiku dibawah. Aku tak sanggup menghadapi ini” perempuan itu menempatkan rapat kedua lututnya ke dada.
“aku sering berkeliaran disini, memancarkan cahaya kelip-kelip sebagai tanda peringatan sebab seringnya aku mendengar tangisan, raungan dan ratapan ditiap malam-malam tanpa rembulan seperti ini. diatas sini kau takkan temukan apa-apa, hanya hamparan langit gelap. Jadi sebaiknya kau turun saja” sayapnya berkepak dan berdenging ditelinga.
“aku takkan turun, biarkan aku disini hingga pagi. Kamar dibawah tidak cukup aman bagiku. Bila malam seperti ini, pintu tersebut sering sekali diketuk. Pria paruh baya yang kupanggil ‘tuan’ selalu mencoba masuk. Aku tak mau hal seperti dulu terulang lagi, saat pintu kamarku lupa dikunci” perempuan itu menadah keatas, diwajahnya tersirat rasa jijik dan benci yang diselubungi ketakutan.
Binatang berkelip itu terbang menari mengitarinya, mencoba memandikannya dengan cahaya. Itu bukan noda!! itu luka-luka yang akan terus membekas ditubuhnya. Binatang berkelip itu sudah tak terlihat lagi, cahaya nya padam ditelan sinar yang benderang saat matahati muncul dari ufuk timur. Perempuan itu kemudian melangkah turun menggunakan tangga bambu yang semalaman menunggu.

Waktu berlalu mengganti hari. Dimalam ini perempuan itu kembali menaiki genteng, tapi terasa sulit baginya karena kakinya yang bengkak dan berdarah. Tak lama binatang berkelip itu datang lagi menghampirinya. Binatang itu terkejut saat cahaya menyentuh wajah dan seluruh tubuh perempuan itu. Pipinya yang lembam membiru, pelipis yang bengkak sebesar bola ‘golf’ mensipitkan mata nya yang merah berair, bibirnya tampak pecah dan berdarah. Tak tersembunyikan pula luka bekas sulutan rokok disekujur tangannya.
“aku ingin mati! Mungkin dengan menggantung diri atau mengiris nadi, tidak dengan siksaan yang membuatku merasakan mati yang berkali-kali. Tapi aku ingat Tuhan? Yang pastinya membenci semua tindakan bunuh diri” wajah perempuan itu tampak makin sembab.
“apa yang terjadi padamu dibawah sana?”
“sesuatu yang takkan mau dialami orang lain. Pukulan dan siksaan yang selalu kuterima sebagai tempat pelampiasan kekesalan mereka setiap kali aku dianggap salah. Kehidupan anjing peliharaan, serasa lebih terhormat daripada kedudukanku dimata mereka!. Perlakuan kasar yang kuterima membuat jiwa tak mampu menjerit, hanya bisa mengerang menahan sakit”. Perempuan itu mengeluh kesah.
Binatang berkelip itu menurunkan frekuensi kepakan sayapnya, lalu hinggap diatas lutut perempuan tersebut.
“aku ingin kesana! Kembali pulang kenegeriku diseberang lautan” tangan kanan perempuan itu menunjuk kearah dermaga.
“tak banyak yang bisa binatang kecil seperti aku lakukan untuk membantu, selain memberi seberkas cahaya dan sayap kecil yang ku punya. Mungkin bisa membawamu terbang, walau ku tak tau sampai seberapa jauh”.
Binatang berkelip itu beralih terbang ketelapak tangan perempuan tersebut. Ia melepas sepasang sayapnya lalu langit berubah secara drastis, rembulan muncul dari balik awan dan menerangi seluruh kota.
Terang bulan…
Ternyata tak hanya perempuan itu yang sedang berada diatap rumah, tapi banyak perempuan-perempuan lain yang juga terlihat tengah berbicara dengan seekor binatang berkelip diatap masing-masing rumah dipenjuru kota itu.
Tak lama setelah melepaskan sayapnya, cahaya binatang tersebut pun perlahan meredup dan padam.
“terima kasih wahai binatang kecil” ucap perempuan itu sembari memasangkan sayap pemberian tersebut ke punggungnya.
Perempuan itu kemudian berlari dan melompat dari atas atap rumah, begitu juga yang dilakukan oleh perempuan lainnya. Mereka terbang saat sayap kecil tersebut berhasil terkepak. Mereka terbang menjauh meninggalkan kota menuju dermaga dan melintasi lautan, tapi sayang.. sayap tersebut ternyata tak mampu membawa mereka lebih jauh lagi. Akhirnya mereka jatuh satu persatu di tengah lautan dan tenggelam didasar kegelapan yang paling dalam bersamaan dengan purnama yang padam ditelan malam.
Mereka menjelma menjadi kunang-kunang yang berkelip-kelip keluar dari lautan dan terbang menghiasi malam-malam dipulau tersebut.
Semua rintihan tangis dan keluh kesah mereka kini tiada pernah sampai menyentuh daratan hati sanubari para penguasa negeri. Kini tenggelam dalam hitam kisah mereka sendiri.

aku anak bangsa, bapakku presiden


entah mengapa akhir-akhirr ini aku kebanyakan mendapat inspirasi buat nulis cerita yang bertema kan sosial?
Apa mungkin karena aku lagi nggak terlalu memikirkan masalah percintaan (maklum lagi ngejomblo...)
jadi, buat parakancil diblog ini untuk beberapa halaman kedepan maka yang ada hanya tulisan yang bernuansakan sosial. ni dia judul yang pertama ceck it dot!!



Aku anak bangsa, bapakku presiden!!


Matahari terlalu dekat di kepala ku. Deru mesin kendaraan bermotor yang berlalu-lalang memekakan telinga.
Seperti ikan-ikan dalam aquarium penuh, semua manusia sejenisku berdesakan untuk sekedar bernapas. Yang katanya udara segar tak berwarna dan hanya mampu dirasa, kini menjelma menjadi noda hitam yang berselubung dan berhamburan . ironinya semua kesejukan kini sekedar menjadi legenda yang telah disiapkan untuk anak cucu kelak.

Dibawah halte yang jelas sekali tak terawat, ku layangkan mata mencari celah diantara keramaian.
Para pengemis tua, pengamen jalanan, pedagang rokok dan anak-anak penjajak koran di jadikan tontonan sedih.
Mataku tertuju pada salah seorang anak diseberang jalan, tertunduk lemas ditrotoar sambil menggenggam tumpukan Koran, sesekali terlihat helaan napas didadanya.
Kuhampiri dirinya sembari menyodorkan uang 10 ribuan.
“ini buat kamu”
Anak itu terkejut yang kemudian menatapku.
“abang mau beli Koran?”ucapnya polos.
“tidak usah, saya hanya memberikan uang ini buat kamu?”
“oh.. terima kasih bang..” dengan raut wajah gembira ia menerima pemberianku.
Tak ingin cepat beranjak, akupun duduk disebelahnya.
“kamu tidak bersekolah?”
“ tidak lagi bang, orang-orang seperti aku cukupnya hanya mengenal uang, itupun hanya antara uang seribuan sampai dua puluh ribuan saja.”
“kamu tidak punya orang tua?”
“ada bang, tapi Bapakku orangnya sibuk. Dia memikul tanggung jawab atas para penduduk yang jumlahnya kurang lebih 231 juta jiwa. Jadwalnya yang padat membuat Bapak sering tak memperhatikan aku lagi. Dipersimpangan ini, aku sering menunggu dan berharap semoga Bapak melintas dan singgah sebentar untuk membawaku keluar dari dunia papan catur ini. Tapi kenyataan nya sungguh berbeda, beberapa waktu lalu bapak pernah melintas di jalan ini, tapi malang seminggu sebelumnya kami malah disembunyikan di balik baju dinas para anak buahnya yang meneriakkan PENERTIBAN!!. Walau hanya mengintip, tapi tetap ku bisa merasakan kehadiran Bapak didalam mobil Mercedes-benz tipe S600 keluaran tahun 2008 yang katanya merupakan kendaraan lapis baja yang tahan terhadap serangan senjata.
Andai bapak dikala itu mau membuka kaca mobilnya, tentu aku akan berlari, melompati gedung-gedung tinggi dan melambaikan tangan sembari berteriak kearahnya agar ia bisa menyadari akan keberadaanku disana” ungkapnya.

Fenomena merebaknya anak jalanan merupakan persoalan yang komplek. Hidup menjadi anak jalanan sebenarnya bukanlah pilihan, karena mereka berada dalam kondisi yang tidak bermasa depan jelas. Namun, perhatian terhadap nasib anak jalanan tampaknya belum begitu besar dan solutif.

Aku terdiam dan terkagum pada anak yang berbaju lusuh dan bertampang dekil itu.
“apa kamu tidak marah dengan Bapak mu?” tanyaku lagi.
“tidak bang.. aku tidak marah. Mungkin memang seperti inilah cara Bapak memeliharaku. aku hanya menangis disaat merasa sakit, dan disaat ini bagaimana saya bisa menangis? Bapak saja tidak pernah menemuiku apa lagi memukulku. Air mata ini tidak akan sempat menetes, keburu kering disengat matahari dan keburu beku didera dinginya malam. Sebenarnya ingin kuhadiahkan gulungan kertas yang berisikan nilai-nilai prestasi atau mungkin medali emas dan perak yang membanggakan. Tapi tentu langkahku tak sejauh itu, ku hanya mampu menunjukkan tarian jalanan, nyanyian peminta belas kasihan dan mungkin harus menabrakkan diri ke tiap kendaraan hanya untuk mendapatkan sedikit perhatian”

Aku mulai merasa iba.
“Bapak kamu sekarang dimana, biar abang temui dia..” tanyaku dengan nada gerah.
Anak tersebut malah kembali tersenyum, kemudian memperhatikan diriku yang saat itu hanya mengenakan kaos dan celana jeans.
“mmm.. tidak mungkin bang?” jawabnya ketus.
“lo.. mang kenapa?”
“abang membutuhkan jas hitam dengan dasi yang tersimpul rapi, sepatu kulit yang berseri serta meninting tas hitam yang berisikan berkas-berkas pengaduan dan aspirasi rakyat (terkadang berisi Playstation portable juga). Kemudian berkumpul di dalam gedung hijau yang besar dan megah itu , lalu mulai tersenyum palsu dan melobi lah pada kalangan-kalangan berkedudukan melalui berbagai organisasi yang mementingkan keuntungan pribadi, barulah kemudian abang menjadi pantas menemuinya”

Semua pernyataannya membuatku bingung.
.“memangnya siapa sich kamu?” tanyaku ketus
Anak itu kemudian berdiri dihadapanku dengan menempatkan koran dagangan didada nya dan kemudian berkata
“aku adalah anak Bangsa, Bapakku Presiden!” jawabnya tegas dan polos sembari berlari dan membaur bersama kebisingan dan kemacetan saat itu.

Seminggu kemudian aku kembali ketempat itu mencari keberadaan anak penjajak koran tersebut, namun tak jua kutemukan. Yang kudapat hanya sayup-sayup kabar dari seorang wanita tua dekil yang membawa keranjang sampah di pundaknya.
“kemarin.. ada salah seorang anak jalanan yang biasa menjual koran dipersimpangan ini tewas tertabrak mobil” ucap wanita tua itu.

Rabu, 05 Januari 2011

malam hari kena pemadaman listrik!

mmm.. ni lah benci nya kalo lg pemadaman listrik. suntuk kali ku rasa! maklum lah, aku kan gak sempat tau gimana rasa ny hidup tanpa listrik cem yang sudah dijalani ama omak dan kakek nenek kita.
udahlah gelap, ditambah udara yang dingin dikarenakan di luar rumah turun hujan (untung hujannya gak di dalam rumah). nyamuk-nyamuk pun semua pada beraksi. aku yang cuma pake boxer dan kaos pun menjadi sasaran empuk mereka.
"pak..puk..pak.."suara tepukan. tapi karena suasana ruangan yang remang membuat para nyamuk sangat susah untuk terlihat. anti nyamuk bakar yg dipasang adekku, ternyata tak mampu membuat mereka gentar. mereka tetap saja berlalu lalang berdenging di telingaku dan kemudian hinggap menggigit. ingin rasanya segera tidur, berselubung selimut untuk menghindari gigitan nyamuk yang tak mau mundur. tapi rasanya sayang? jam di dindingku masih menunjukkan pukul 20.00 wib. tak rela rasanya membiarkan malam ini berlalu dengan cepat. kucoba menepis kesunyian di ruang tamu dengan bermain gitar akustik kepunyaanku (mf salah,'pinjemanku' he..he..) satu, dua, dan akhirnya beberapa lagu pop terbaru pun berhasil dimainkan. tp tetap aja kurang asik, habisnya cuma aku sendiri aja yang nyanyi..
emak dan abang ku kelihatan lagi ngobrol (bukan nggosip ya?) ku hentikan permainan gitarku dan mencoba berbaur dengan kegiatan mereka. o.. ternyata topiknya adalah tentang kisah-kisah masa lalu emakku. ternyata seru juga ceritanya. ku dengarin sambil tepuk kanan tepuk kiri (maklum, serangan nyamuknya tetap saja berlangsung).
cerita emakku pun selesai, diakhiri dengan nguapan panjang darinya. dia pun beranjak masuk ke kamar diikuti pula oleh ayahku.
yang masih bertahan di ruang tamu hanya aku, adik dan abangku saja. si abang sibuk dengan hp nya.. si adik sibuk pula dengan mainan nya.. dan aku sendiri, sibuk pula dengan tulisanku.
walau dengan pencahayaan lampu teplok, ku tetap menulis apa yang sekarang sedang kalian baca ini.
"hu..aaa..mm." ternyata rasa kantuk sudah mulai merajaiku. ya sudahlah? kuhentikan saja kegiatan corat-coretku dan mulai beranjak meninggalkan ruang tamu dan menuju ke kasur hangat.
kurebahkan tubuhku, tarik selimut, baca doa, pejamkan mata dan akhirnya tidur.

cinta bola kaca




Langit yang gelap dibalut dingin suasana malam disepanjang jalanan di kota. Ku bawa ia di tempat makan pinggir jalan. Hati yang masih kacau-balau mencari kepastian atas ucapannya di telepon kemarin malam.
“Tri.. abang ingin tau alasan mengapa engkau meminta untuk mengakhiri hubungan ini?”
“maaf kan Tri bang. Kan sudah Tri beritahu alasannya. Tri nggak bisa ngejalani hubungan jarak jauh seperti ini. Rasa curiga ,cemburu dan sepi terkadang datang beriringan dengan rasa rindu yang menghantui”
“tapi hal semacam itu sudah pernah kita bicarakan,dasar kepercayaan dan kejujuran yang kita pegang akan mampu menepis semua keraguan. Masalah tersebut tidak cukup besar untuk dijadikan alasan putus” ucapku meyakinkan sembari memegang tangannya.
Sejenak ia terdiam lalu menatapku.
“memang bukan itu saja yang menjadi alasan keputusan ini. Mantan pacar Tri beberapa hari lalu datang dan meminta untuk balikkan lagi, begitu juga dengan ayah yang sepertinya lebih menyetujui Tri berhubungan lagi dengannya”
Sentak ku lepaskan genggaman tangannya.
Gemuruh serasa menderu dihatiku,langit seakan runtuh menimpahku dan rasa sakit ini menyesakkan dada.
“inikah rasanya di jadikan pelariaan cinta?”ucapku sedu.

Sebulan berusaha menerima dan memahami kenyataan pahit ini menimbulkan sepi dan rindu akan kehadiran seorang kekasih.
Pertemuaan dengan Ida, wanita yang di kenalkan oleh temanku mungkin saja dapat mengobati luka dihati. Setelah menjalani hari-hari dengannya dalam status pacaran,tak jua kudapatkan perasaan yang bisa melebihi rasa sayangku seperti pada Tri. Hingga kuputuskan untuk mengakhiri hubungan dengannya.
Kucoba mengarungi samudera cinta kembali,kulabuhkan sejenak di hati-hati mereka.

Pipit namanya, gadis manis dengan postur mungil itu sempat mencuri perhatiaanku. Kesibukkan dalam mengejar cintanya sejenak membuat ku lupa akan bayang-bayang Tri.akhirnya kudapatkan hatinya, namun sifat posesifnya muncul dan ini menimbulkan kegerahan padaku dan memaksaku untuk mengakhiri hubungan pacaran dengannya.

Tak berlangsung lama kesendiriaan ini, berawal dari pertemuaan secara tak sengaja dengan Rini menimbulkan rasa suka dan cinta yang akhirnya berlanjut dalam status pacaran.
Entah ada angin apa,setelah sekian lama Tri kembali menghubungiku. Komunikasi ini kembali menguak semua rasa yang telah coba ku pendam jauh didasar hati. Tutur katanya yang dulu begitu memikatku kini kembali merasuki.
Komunikasi yang terjalin seolah memberi sedikit harapan untuk kembali.
Hal ini membuatku mengabaikan kehadiran Rini yang sekarang telah menjadi pacarku.
Perubahan sikap yang terjadi telah menimbulkan kecurigaaan pada diri Rini.
Suatu hari Rini menemukan pesan dikotak masuk handpone ku, apes nya? aku lupa menghapus pesan sms dari Tri. Kejadiaan itu mengakibatkan pertengkaran besar yang berpengaruh pada hubungan kami.
“Rini sekarang mengerti apa yang membuat abang berubah beberapa hari ini. Rini takkan menyusahkan abang dengan mengajukan pilihan, karena Rini yang akan memberikan keputusan sendiri yaitu sebaiknya kita putus!!”
Semua ini mengejutkan diriku namun akupun juga tak mampu berbuat apa-apa untuk merubah keinginannya itu.
Komunikasi dengan Tri terus ku lakukan dan beberapa kali kami sering janjian buat ketemuan lagi.

Namun beberapa hari ini Tri sangat sulit dihubungi, nomer teleponnya tidak pernah aktif. Hal ini menimbulkan kegundahan dihatiku. Hingga akhirnya aku mendapatkan kabar dari temannya bahwa Tri akan menikah bulan depan.
Kabar itu sungguh perih menyayat hati, menghempaskan semua rasa dan meludahiku untuk kedua kali nya.


Untuk beberapa hari setelahnya, tak sembarangan kuterima cinta dan tak mudah ku mengungkapkan cinta pada wanita yang tertarik padaku, sampai benar-benar ku yakin mencintainya. agar kelak, ku tak menyakiti mereka.
Luka yang kuterima, ku anggap sebagai balasan yang pantas atas perbuatanku yang juga pernah menyakiti mereka.
Cintaku seperti bola kaca, yang menggelinding tak tentu arah dan akhirnya pecah.
“bila kutemukan nanti, maka takkan kusakiti lagi seseorang yang benar tulus mencintaiku..” ucapku dalam hati.

Selasa, 04 Januari 2011

curhat dadakan


‘tel… bangun. Antarin dulu ayah kerja’ ucap ayahku.
Dengan mata yang masih mengantuk dan dengan pikiran yang masih terpaut dengan mimpi indahku malam tadi. Aku beranjak dari tempat tidur dan segera mencuci muka di kamar mandi. Kunyalakan sepeda motor dan melaju mengantarkan ayahku yang dengan tenang duduk di boncengan. Cukup 15 menit untuk tiba di tempat kerjanya. Setelah ia turun akupun tancap gas kembali. Tiba di persimpangan jalan yang hampir sampai di gang rumahku seorang polisi lalu lintas menghentikanku di jalan dan memintaku untuk menepi.
‘pritt….’ Bunyi peluit.
‘selamat pagi pak.. bisa tunjukkan surat-surat kendaraan nya?’ pintanya padaku.
Dengan wajah tegang, akupun menunjukkan STNK saja(saat itu SIM ku belum diurus)
Lalu polisi tersebut membawaku ke pos nya diseberang jalan itu.
‘anda telah malanggar aturan dalam berlalu lintas, yaitu anda tidak menggunakan helm serta tidak memiliki SIM. Maka anda akan di tilang’ ucapnya tegas.
‘mmmm… gawat ni kalo ditilang, urusannya bisa lama. Sedangkan kondisi keuanganku lagi seret dikala itu’ ucapku dalam hati.
Aku mencoba memikirkan cara yang tepat, cepat dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya buat bisa menggagalkan niatan polisi tersebut untuk memberikan surat tilang.
Lalu dengan muka memelas kuhampiri polisi tersebut.
‘Maaf pak.. tolong jangan ditilang. Bukan maksud saya untuk tidak memakai helm, baru seminggu yang lalu helm saya hilang di loker tempat kerja saya. padahal tu helm baru saja saya beli dari hasil gajian saya bulan lalu. Dan saya mengetahui kalau penggunaan helm itu sungguh sangat penting dan berguna untuk menjaga keselamatan kepala kita bila terjadi benturan saat kecelakaan. Karena kalau bukan kita sendiri yang melindungi diri kita lalu siapa lagi.. ya kan pak? Tapi Walau tanpa mengenakan helm, saya tetap harus mengantarkan ayah saya ketempat kerjanya seperti di pagi ini.maklumlah pak, orang tua saya tidak memiliki kendaraan lagi buat bekerja dan saya bisa jadi anak yang durhaka kalau sampai tidak mau mengantarkan ayahnya sendiri. Kalau mengenai SIM, saya sudah punya rencana bakal mengurusnya di akhir bulan dan tentunya mencari waktu off kerja, Sebab hanya disaat itulah saya baru mendapatkan uang dan bisa langsung mengurusnya. Sebab prosedur pengurusan SIM memerlukan waktu yang tidak sebentar.
Gaji saya tidak cukup besar untuk mengurus semua keperluan sekaligus. Belum lagi uang bulanan sepeda motor saya yang sudah mendekati tenggat waktu pembayaran. Kalau ampek terlambat maka sepeda motor saya bisa ditarik Showroom...Kemarin sore, saya juga hampir ditilang disini. Alhamdulillah.. pak polisi baik tersebut mau diajak berdamai. Tapi kalau sekarang ini saya bingung harus berdamai dengan cara bagaimana, karena uang didompet saya juga tidak ada lagi (sembari membuka dompet dan menunjukkan isinya yang memang tidak ada). Kalaupun bapak tak mau sedikit memberi kemudahan dengan memaafkan kesalahan saya dan tetap mau menilang, saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mungkin menurut Bapak kesalahan saya sudah terlalu besar dan tidak mungkin lagi bisa mendapatkan toleransi,Karena sungguh itu sudah menjadi tugas Bapak untuk menegur dan memberi sanksi terhadap masyarakat yang tidak mematuhi aturan dalam berkendaraan dan walau saya tidak tau sampai kapan baru bisa membayar biaya tilang tersebut. Andaipun nantinya saya memiliki uang, saya justru malah bingung harus mendahulukan yang mana, membeli helm,membayar tilang atau mengurus SIM dulu.. yang saya harapkan hanya rasa simpatik Bapak atas……..’
‘sudah…. Sudah… sudah…, ni ambil STNK mu!!’ ucap polisi tersebut memotong bicaraku yang belum selesai.
‘alhamdulillah… makasih ya pak?’ ucapku sembari tersenyum manis dan berjalan tenang keluar.
Baru sebentar keluar pintu,akupun kembali masuk menjumpai pak polisi itu lagi.
‘maaf pak.. nanti saya harus mengantarkan makan siang ayah saya dan pastinya lewat sini lagi. Jadi…. Tolong jangan ditangkap ya pak???
‘yaudah.. sana pergi kau!!’ bentaknya.




(Terinspirasi dari kisah nyata temenku)


Nur efendi

memory of my 'perkutut'


Aku lupa memberi makan burung perkutut peliharaan kami, sehingga dia harus berpuasa 4 hari lama nya dikarenakan kami harus menginap di tempat saudara saat itu. yang parahnya lagi, ternyata aku juga lupa memasukkan nya kedalam rumah. Mungkin dalam hatinya ia berkata
‘hmm.. dasar manusia, kalo emang mau meninggalkan aku diluar, sebaiknya sediain selimut atau berdirikan tenda dan membuatkan api unggun dulu untukku baru boleh pergi’(cem mau kemah aja?)
Mungkin saja saat ini dia masuk angin dan repotnya lagi kalo ampek dia minta dikeroki(soalnya lebih besar uang logam daripada tubuhnya).
Setibanya dirumah, bergegas aku kebelakang rumah. Tampak bagiku si perkutut tengah ngobrol dengan hewan sejenisnya yang sering bertengger di pohon belakang rumah. Obrolan mereka terlihat serius seperti merencanakan untuk melakukan invasi ke manusia, sebab perlakuan manusia yang kurang hewani terhadap mereka. Pernah mereka mengirimkan surat pengaduan ke KOMNASPH (komisi nasional perlindungan hewan) tapi tak pernah ditanggapi, mungkin karena tulisan mereka yang kurang bagus atau pola pemilihan kata yang kurang tepat. Berikut ini adalah beberapa penggalan dari isi surat mereka
‘weaaarr.. cuit.. cuitt cuit,, rgrrr@tn #hh gerrr critt .. cuitiiii @@mmm.. hergg prrr kutut tut tut tut.. oorrg orgh@ …. Dst’( klo mau yang lengkapnya, bilang ya.. ntar aq kirimin)
Obrolan mereka sentak teputus sebab keberadaan ku telah mereka ketahui, mereka diam seolah mereka takut kalo aq akan membocorkan rencana mereka saat itu. Aq menurunkan sangkar perkututku dan mencoba mengisi tempat makannya yang sudah kosong. Mungkin dia sedang ngambek kepadaku,sebab tak terlihat senyuman di paruhnya(Ha.. ha.. mang gimana bentuknya kalo burung senyum?)
Di palingkan wajahya saat aku menatap matanya.
‘maafkan aku atas kekhilafan ini, janganlah engkau marah padaku, sungguh sunyi hariku tanpa kicaumu’ ucapku merayu.
‘crett…’ suara terdengar dari atas.
Jatuh mengenai kepalaku, hangat terasa menembus ubun-ubunku.
Ternyata burung perkutut yang bertengger tadi masih diatas dan kini sengaja menjatuhkan kotorannya.
Aku hanya memaki dalam hati sembari membersihkan kotoran itu dari kepalaku.
Aq memaklumi hal itu, mungkin saja burung itu merasa cemburu melihat aq yang tengah menggoda perkutut peliharaanku karena dari yang kudengar, mereka itu berpacaran(cemburu buta versi burung, ha ha.. manusia jangan meniru tindakannya ya?).
‘wahai burung diatas sana, sungguh tiada maksud apapun diriku atas dirinya. Tak perlu engkau ragukan akan kesetiaan cintanya. Dan jangan pula engkau berpikiran negatif terhadapnya, kami sama-sama normal dan tidak ada penyimpangan di diri kami(karena burung perkutut peliharaan ku itu jantan! Pastilah lah dia merasa aneh melihat aku merayu cowoknya tadi).kejujuran ini aq sampaikan kepadamu hanya agar engkau tau kalo bagiku kalian adalah pasangan serasi, mungkin aq bisa jadi saksi dalam pernikahan kalian nantinya( ha ha ha.. gombalisme, mungkin bisa kalian gunakan untuk menyatukan hewan peliharaan kalian yang sedang
bertengkar dengan pasangannya)’ ucapku padanya.
Burung itu pun lalu terbang seolah memahami penjelasanku (atau malah pergi Karena menyadari klo aq tu stress. He.. he..)
Aq kembali mengisi tempat air minum perkututku yang juga telah kosong. Pantes aja aq mencium bau tak sedap, ternyata selama 4 hari itu dia juga tidak mandi sebab aku pun lupa mengisi air minumnya saat pergi kemarin. Sebagai tanda permintaan maafku mungkin saja aq bisa membelikannya shower dan bak mandi baru agar lebih memanjakannya.
3 hari setelah kejadian itu, kutemukan pintu sangkarnya telah terbuka. Mungkin dia telah mendapat bantuan tenaga professional, hingga mampu membuka gembok sangkar yang dirancang khusus menggunakan sandi dan dapat dengan mudah mematikan alarm canggih yang ku pasang.
‘pasti ini telah kau rencana kan sebelumnya dan aku akan coba merelakan kepergiaanmu. Mungkin saat ini kau tengah terbang berkeliling, mencari kampus yang tepat buatmu menuntut ilmu demi cita-citamu menjadi Duta Besar Burung di Indonesia. Aku kan selalu mendukungmu perkututku!’ ucapku sembari memandang ke atas langit yang luas.

Di dedikasikan buat burung perkututku.

Nur efendi

manis, asem, asin dan pedasnya cinta


Langit adalah seorang pemuda penjual rujak keliling.Di siang ini, ia menjajakan rujaknya di wilayah perumahan sederhana. Terik matahari yang menyengat seakan tak dirasakan lagi olehnya, mungkin karena tubuhnya telah terbiasa mengecap panasnya dunia.
“rujak.. rujak.. rujakkk..” begitu teriaknya menjajakan dagangannya. Ia berkeliling sepanjang jalan.
“bang… beli rujaknya!” terdengar panggilan seorang wanita dari belakang. Sekejap saja langit berhenti dan menoleh kearah asal suara itu. Tertagum dan terpesona sambil berucap didalam hatinya “subhanallah.. sungguh hampir sempurna tuhan menciptakan makhluk yang seindah itu, bagaikan embun pagi yang menyegarkan mata .” ucapnya kagum.
Ternyata wanita itu adalah Bening, seorang wanita dengan paras cantik,berkulit kuning langsat dibalut senyuman manis dan gigi gisungnya.
“bang beli rujaknya tapi jangan ada bengkoang nya ya?” ucapnya . Tersadar langit dari kagum mendadaknya.
“ o. iya, akan saya buatkan. Mbak gak suka bengkoang ya?”
“iya, saya kurang suka bengkoang..” jawab Bening.
Sambil membuatkan pesanan, Langit coba beranikan diri meminta berkenalan dengannya, dengan tersenyum bening menyambutnya.

Bayang wajah wanita itu kini hadir dilamunan Langit.
Keesokan harinya, Langit kembali menjajakan rujaknya didaerah tempat tinggal Bening. Di waktu yang sama Langit sampai disana, ternyata Bening juga lagi diberanda rumah. Dan seperti kemarin, Bening pun kembali membeli rujak dagangannya. Seakan telah dipersiapkan sebelumnya, kini Langit menyisihkan waktu lebih lama untuk bercakap-cakap dengannya. Ternyata tak Cuma wajahnya yang cantik, tapi juga hati dan tutur katanya yang lembut membuat Langit hampir lupa bahwa ia harus kembali berjualan saat itu.
Dihari berikutnya, Langit datang berjualan kesana lebih cepat sekedar untuk menitipkan secarik kertas berisikan puisi di beranda rumahnya Bening.

“ Wahai sang mentari
Redupkan sinarmu disaat terik menyengat kedalam kulitnya.
Wahai semilir angin…
Hembuskan kesejukan ditiap lekuk jiwanya yang gerah.
Wahai sang waktu...
Berikan kemudahan dan warna indah ditiap detik langkahnya. “

Hampir setiap pagi, langit menitipkan lembar demi lembar untaian puisi yang dia rangkai sendiri.
Bening membaca tiap puisi, dan bisa menebak kalau itu semua adalah langit yang membuatnya.
Awan tampak mendung dimalam itu. Langit memberanikan diri untuk datang sekedar bertamu kerumah Bening.Tampak sebuah mobil kijang silver yang terlihat mewah telah parkir lebih dahulu dihalaman depan rumah. Tak mau berpikiran negatif, Langit segera memarkirkan sepeda motornya.
“assalamualikum… “ ucap langit.
“walaikumsalam…” sahut dari dalam. Ternyata Bening yang membukakan pintu dan mempersilahkan masuk. Namun ternyata tlah ada seorang cowok yang kelihatan sebaya dengan Langit, telah duduk diruang tamu. Bening memperkenalkan Langit dengannya. Cowok itu adalah “ Rain” pacarnya Bening. Mereka telah 2 tahun berpacaran.
Rasa tak betah untuk berlama-lama, Langit pun segera berpamitan untuk pulang.

Setelah malam itu, Langit mulai jarang berjualan didaerah tempat tinggal Bening. Bukan karena benci, tapi sekedar berusaha untuk menepiskan rasa dihatinya sendiri.

Suatu sore Bening mengalami kecelakaan, ia tertabrak mobil diperjalanan pulang. Meski hanya mengalami luka luar yang ringan, tapi benturan yang terjadi telah mengakibatkan luka dalam yang cukup serius. Dokter menyatakan bahwa telah terjadi benturan ditulang belakang nya sehingga mengakibatkan kelumpuhan.
Seakan diselimuti kabut pekat, vonis dokter tersebut seolah membuat separuh dari hidupnya hilang.
Kedua orang tua nya pun terpukul atas kejadiaan itu. begitu pula Rain dan Langit saat mendengar kabar tersebut.
Di saat kesendiriannya diruang inap rumah sakit, Bening menerima telepon dari Rain.
“kring… kring.. ‘ dering handpone Bening.
“hai sayang..” ucap bening saat menjawab telpon.
“ hai.. gimana keadaannya da baikkan?”
“udah..”
“baguslah.. oya, maaf ya mas gak bisa nemenin hari ini soalnya masih ada kerjaan kantor yang belum selesai”
“o.. yaudah gak papa.”jawab Bening.
“oya, ada suatu hal yang mas harus sampaikan padamu ning,” ucap rain dengan nada rendah.
“ Ada pa sayang, kelihatannya serius banget..” sahut Bening.
“ini berkaitan dengan hubungan kita, mas tidak bisa lagi menemani dan menjaga cinta kita. Karena ada suatu alasan yang sulit untuk mas jelaskan. Pastinya ini menyakiti hatimu, tapi mungkin inilah yang terbaik untuk kita saat ini. Mas hanya bisa meminta maaf kepada mu” ungkap rain.
Sejenak Bening terdiam mencoba berpikir dan memahami, lalu ia berkata “tak perlu mas jelaskan, aku mengerti apa alasan mas. Bila itu memang inginmu,maka ku berterima kasih atas perhatian dan cinta yang tlah mas beri selama ini, karena aku pun menyadari kalau kini aku tak sepantas dulu..” Bening menutup teleponnya diiringi tetes air mata yang membasahi pipi nya.

Dunia pun seakan ikut merasakan perih hatinya, hingga awan menurunkan hujan sebagai petanda rasa simpatik mereka.
Setelahnya, bening hanya berdiam menatap hujan dari balik jendela kamar rumah sakit sambil berusaha menahan tetesan air mata yang seakan tak mampu untuk berhenti menetes.
Ditengah kebisuan dunianya, terdengar lirih suara dari arah pintu kamar ruangan.
“Jangan memandangi hujan dengan air mata, karena mereka sudah cukup basah.. tapi pandangi dengan tatapanmu yang paling indah. Karena hujan kan segera reda dan awan mendung segera tiada, lalu saatnya muncul langit biru yang indah dengan warna-warni pelangi yang mempesona ”. sentak bening menoleh kearah pintu dimana suara itu berasal. Ia terkejut,ternyata kata-kata itu di ucap oleh langit yang sambil berjalan menghampiri dirinya.
“ hai.. aku membawakan rujak kesukaan kamu. Walau tanpa bengkoang, mereka akan tetap dinamakan rujak. Begitu halnya ketulusan perasaanku kepadamu.” Ungkap langit sambil duduk di sebelah bening.
Bening hanya mampu memberi senyum, saat kesedihan dan kebahagian harus datang bersamaan..



nur efendi

kelas jahil (kertas, uang, kopi dan .....)


Bagaikan memiliki fasilitas AC di ruang kelas, udaranya yang membelai wajahku seakan membawa anganku melayang jauh menikmati suasana pantai yang biru dengan deburan ombak menghempas bebatuan karang.
‘brurrrrr…’ ombaknya menghempas, menyadarkanku bahwa sebenarnya aku sedang berada diruangan kelas ( pantesan banyak siswa yang berebut tuk dapat tempat duduk di dekat jendela?)
‘ selamat siang anak-anakk!’ guru pelajaran tehnik gambar memasuki ruang kelas.
‘siang pak!” sahut kami beramai-ramai.
‘Pudun… bagikan kertas ini ke teman-temanmu.’
‘ baik pak…’ jawab Pudun( nama ketua kelasku)
Seperti biasanya, itu adalah kertas contoh skema bahan yang harus kami gambar dengan skala yang lebih besar pada kertas A4 yang sebelumnya telah ditandatangani guru tersebut. Agar diketahui, harga perlembarnya Rp500 ( yg mahal tanda tangannya, dah cem artis aja tu guru!). Andai saja pelajaran tehnik gambar ini seperti pelajaran menggambar tingkat SD dulu pasti akan lebih mudah, tinggal corat-coret,lingkar sana-sini, zig-zag, dan arsiran lalu jadilah gambar pemandangan pantai dengan gunung dan jalan setapaknya.
Tapi tentiu saja ini sudah pasti berbeda, perlu detail,pemahaman tentang bentuk dan pengukuran yang tepat. Kerumitan inilah yang membuat banyak dari kami harus mengulang untuk menggambar lagi,lagi dan lagi sampai pak guru tersebut menganggap gambar yang kami buat telah benar.
Setelah memberikan tugas, guru itu malah keluyuran pergi kekantin yang terletak tak jauh dari ruang kelas kami dan meninggalkan minuman the manis dan tas kerjanya yang berisikan setumpuk kertas A4 kosong di atas meja. Hal ini dimanfaatkan baik oleh kami. Dikomandoi Pudun sebagai pimpinan misi penting ini.
‘ woi!! Gimana keadaan diluar?’ tanyanya pada dua orang siswa yang bertugas di pintu kelas untuk mengawasi keberadaan guru tehnik gambar tersebut.
‘ AMAN…’ sahut mereka bersamaan, sembari menunjukkan jempol mereka.
Seketika itu juga, meja guru tersebut di serang. Para siswa telah berkerumunan disana, mereka berusaha untuk mengganti nilai tugas mereka minggu lalu, dengan sedikit sentuhan artistic yang berdaya seni tinggi, mereka mampu merubah angka 6 dan 5 menjadi nilai 8 bahkan ada yang menambahkan nilai koma 5 dibelakangnya karena merasa masih belum puas.
Aku dan ada beberapa teman lainnya tak perlu melakukan hal itu, sebab tanpa dirubah pun nilai kami sudah cukup baik ( hee.. he.. kesombongan yang memuncak)
Tapi sebagai murid yang solider, akupun ikut ambil bagian dalam penggelapan beberapa lembar kertas A4 yang juga ada di dalam tas tersebut.
‘ daripada harus bayar Rp500..’ ucapku dalam hati.( maklum.. uang saku siswa dimasa itu belum sesuai dengan OMS atau ongkos minimum siswa)
‘Mmmm.. dasar apes!’ ucapku setelah mengetahui ternyata kertas tersebut belum ditanda tangani.
Tak kehabisan akal, aku pun meminta bantuan pada teman sebangku. Budi namanya, ia memiliki kemampuan analitis dan kreatifitas dengan tingkat keakuratan 0,05%( ha..ha.. cem jangka ukur aja!)
Ia bisa meniru dengan akurat tanda tangan guru tersebut( mungkin saja nantinya ia bisa bergabung dalam sindikat pembobol rekening dengan tehnik pemalsuan tanda tangan.. ha..ha.. canda bud?).
Ternyata tak hanya misi perubahan nilai dan penggelapan kertas gambar yang mereka lakukan, tapi juga ditambah aksi balas dendam. Beberapa murid yang jengkel, benci, atau sekedar tak suka melihat tampang guru tu yang cuek, berani mencampur minuman guru tersebut dengan kapur tulis dan beberapa resep iseng lainnya yang mereka dapati disekitar ruangan kelas tersebut. Dengan beberapa ucapan mantra yang dibacakan sambil mengaduk minuman agar tercampur dengan rata( macam dukun lah gayanya…)
Tak lama berselang pak guru itupun kembali keruangan kelas.
‘ sudah selesai tugasnya??’ ucapnya sembari langsung saja meneguk teh manis tersebut. Ia sempat berhenti meneguknya, mungkin ia merasakan keganjilan pada minumannya.
Jantung kami pun berdegub tak beraturan karena ketakutan, kalo saja bapak itu curiga dan memeriksa zat kapur yang mengendap di minumannya maka kami bakal kena hukuman berat.
Tapi karena mantra yang telah kami bacakan sebelumnya membuat rasa curiganya hilang dan akhirnya keambali meminumnya hingga habis.
Rasa cemas pun mendadak berubah menjadi ceria.
Sebagian murid tertawa kecil dan sebagian lagi wajahny memerah menahan tawa
( mmm… dasar murid tak berbakti).
Bila kelak guru tersebut terserang TBC, mungkin kamilah yang harus bertanggung jawab.
Tapi syukurnya guru tersebut malah tampak lebih sehat. Amin…
(berarti guru nya yang harus berterima kasih atas ramuan kami. Hee… hee)




Mohon maaf,
Tidak ada maksud menyinggung atau melecehkan siapapun dalam catatan ini.

Nur efendi

dilema mereka ditoilet umum

Seperti kena serangan boom Nagasaki, ledakan hebat telah terjadi didalam perutku radiasinya telah menyebar keseluruh tubuh, menyerap habis darah dan ketegaran di diriku.
“ mmm.. gawat ni, kalau ampek tercirit” ucapku dengan muka pucat yang seakan takut kalau ampek mall ini tercemar radiasi.
Perlahan tapi pasti, ku segera tuju toilet di mall itu.
Lokasi telah ditemukan!
“ngapain tu?” Tanya ku dalam hati, saat melihat ada seseorang yang berdiri diantara pintu masuk toilet pria dan wanita.
Rok dan rambut panjangnya menunjukkan kalo dia itu wanita,tapi postur tubuh dan otot yang terlihat di tangannya serta betis pemain bola itu menunjukkan kalo dia itu pria.
Sejenak aq bingung.
“ apa mungkin itu ade rai yang sedang pakek rok??” tanyaku di hati.
Tak bisa berpikir lebih lama lagi karena reaksi nuklir yang tersimpan diperutku mulai bocor dan menyebar ke udara.
“ permisi mbak..” ucapku sambil berjalan menuju pintu toilet pria sembari melihat kearahnya untuk memastikan kegundahan yang berkecamuk dalam hatiku.(ha.. ha.. agak di dramatiskan)..
Terkejut! Mungkin itulah kata yang mampu menggambarkan tampangku saat itu.
Teryata dia anggota CCIN1 ( cewek cowok dalam 1 badan)
Di dalam toilet, sambil mendeportasi bahan nuklir di perutku ke dalam ruang penyimpanan bawah tanah mall itu.
aku pun mencoba berargument sendiri.
“nggak kebayang betapa berat beban hidupnya, seperti halnya saja saat ini. Pasti dia telah berdiri satu jam disitu hanya untuk memutuskan harus memilih yang mana, toilet pria atau wanita??. Semua kemungkinan negatif pasti telah di pikirkan nya terlebih dahulu, misalnya saja bila dia memutuskan memiilih masuk toilet wanita. Pasti akan terjadi keributan besar di dalam sana, saat wanita-wanita yang juga berada di toilet itu melihat seseorang dengan pakaian wanita buang air kecil sambil berdiri?
Tentu mereka akan terkejut, berteriak histeris, pingsan bahkan mungkin harus dibawa ke psikiater untuk menjalani proses terapi.(tentu gak sampai segitunya). Atau malah mengangkatnya menjadi trendsetter posisi buang air kecil terunik buat wanita (He… he…). Tetap saja kemungkinan terburuk yang harus dihadapinya adalah mendapat pukulan tas tangan dari kulit buaya( untung aj udah jadi tas, kalo sempat masih berbentuk buaya?) atau tonjokan hak sepatu tinggi( yang dikenal karena keruncinganny sehingga mampu menancap di tembok), bahkan jambakan khas ibu-ibu, karena dianggap telah melanggar batas privasi mereka. Atau malah dia harus ditahan security mall atas dugaan sebagai pelaku pembuat video kamar mandi dengan modus menyamar yang akhirnya memaksa dia menunjukkan kartu anggota CCIN1 nya agar mrk percaya.
Dan andai dia harus memutuskan untuk masuk ke toilet pria, tentu saja itu berlawanan dengan kata hatinya yang dengan sungguh ingin berusaha sekuat mungkin menjadi wanita tulen. Terkejut? Itu pasti juga dirasakan oleh pria-pria yang berada di dalam.
Tak seheboh wanita, pria cenderung cuek dan menyimpan rasa kagetnya dalam hati saja.hanya sedikit tertawa-tawa kecil saat melihatnya harusnya buang air kecil dengan berdiri sambil menaikkan rok, bukan menurunkan celana seperti layaknya yang dilakukan pria pada umumnya. Dan mungkin kehadirannya bisa mengganggu proses buang air kecil pria di sebelahnya yang seharusnya membutuhkan kosentrasi penuh (agar menghasilkan semburan total), atau pria di sebelahnya lagi yang mendadak menjadi ingin tau dan terus mencoba berusaha mencuri pandang melewati pembatas yang hanya setinggi dada untuk memastikan beneran cowok atau cewek sich? Sambil mendengarkan bunyi cipratan air yang keluar sembari menghitung dengan rumus:
[ semakin panjang pipanya maka cipratan semakin halus = 99%cowok]
[semakin pendek pipanya maka cipratan sedikit kasar = msh tetap 75%cowok]
[tanpa pipa maka cipratan kasar dan menyebar = 99%cewek]” Itulah argumenku selama di toilet..
Proses deportasi nuklirku pun sudah selesai. Saat membuka pintu, aku terkejut.
Ternyata anggota CCIN1 tadi sedang buang air kecil dengan posisi tepat seperti yang aku pikirkan. Sambil tertawa-tawa kecil, aku mencuci tanganku di wastapel yang terletak disampingnya.
“KETAWAIN APA!?” Tanya nya dengan nada cowok. Aq mendadak diam dan bergegas keluar.
end

Mohon maaf bila ada yang tersinggung,
Ini dibuat hanya untuk hiburan saja
Tanpa maksud melecehkan..
Nur efendi

mr. telat


Telat, seolah menjadi kebiasaan buatku di masa sekolahan dulu. Seandainya saja ada mata pelajaran telat, mungkin aku yang kan mendapat nilai tertinggi.
Telatku baru dimulai setelah masuk kelas 2 STM, soalnya di kelas 1 masa nya buat mengobservasi sekolah sehingga menuntutku untuk datang lebih cepat karena harus mengumpulkan data,menganalisa sifat-sifat guru, memahami kondisi dan kebiasaan mereka, menemukan letak kelemahan sistem keamanaan di sekolah itu, mencari tahu tempat yang berpeluang buat kabur, dan mengumpulkan anggota (he.. hee.. udah macam jaringan teroris tingkat sekolahan aja).
Perjalanan dari tanjung morawa ke sekolahku di medan kurang lebih memakan waktu 45 menit tidak termasuk macet dan kesiangan. Pukul 07.10 wib bel sekolah telah di bunyikan tapi aku masih di perjalanan.murid yang masuk disaat itu berada dalam kawasan kuning, yang berarti hanya mendapatkan hukuman ringan. Hanya boleh masuk bila telah mengumpulkan sampah digenggamannya. Sedangkan aku baru tiba di sekolah pada pukul 07.30 yang berarti berada dalam kawasan merah. Guru BP yang bertugas saat itu mmemiliki postur yang unik, perutnya condong kedepan alias buncit(mmm… aku sempat berpikir mungkin saja bapak itu punya masalah dengan susah buang air besar, sehingga hanya mampu 2 kali buang air besar dalam sebulan lalu mengakibatkan penimbunan sisa makanan di perutnya.Hee.. hee. Bercanda pak?)
‘kenapa kamu terlambat?’ Tanya nya padaku.
‘maaf pak, susah dapet angkot nya, begitu dapat malah terjebak macet. Padahal saya berangkat dari rumah pukul 06.00 lo pak( mmm.. alasan standart)’ jawab ku.
‘kalau begitu, Besok berangkatnya lebih cepat!’ tambahnya.
Tanpa bertanya lagi, dia pun lalu menyuruhku berjalan jongkok mengitari halaman depan sekolah (mau lepas rasanya dengkul ni…) dan setelah itu memberi cubitan khas di perut yang sakit sekali serasa langit runtuh di kepalamu dan petir menyambar tubuhmu serta matahari membakarmu(halah.. lebay!!).
Keesokannya akupun terlambat lagi.
‘kenapa kamu terlambat lagi’ Tanya nya.
‘saya sudah berangkat lebih cepat seperti yang bapak bilang, tapi ada halangan di jalan pak? Ada truk pengangkut tepung yang terbalik di jalan. Karung-karung tepungnya berserakan, mungkin karena muatannya yang terlalu banyak dan tak memenuhi standart keamanan sehingga membuat truk itu terbalik saat menikung. Untung tidak ada yang terluka, tapi akibat kejadiaan itu terjadi kemacetan yang cukup panjang dan menyibukkan para polisi untuk menstabilkan keadaan’ jelasku padanya( berharap ia akan tertarik dengan beritaku dan melupakan hukuman buatku). Mmm… tapi tetap aja aq mendapat hukuman yang sama.
Besoknya lagi, besoknya lagi dan besok-besoknya lagi, aku selalu memberi alasan yang bervariatif(seperti koki yang selalu berusaha menyediakan resep-resep yang baru), tapi tetap aja mendapat hukuman yang sama.
Tapi kali ini berbeda karena ini hari senin, yang berarti akan ada upacara bendera yang pelaksanaannya dimulai lebih cepat.
Baru tiba di luar gerbang, aku sudah mendengar pidato kepala sekolah yang menandakan upacara akan segera selesai. Terlihat pula murid-murid yang tergabung dalam MUHOLAT(murid-murid hobi telat) telah di bariskan di tempat-tempat tersendiri sesuai dengan urutan lamanya waktu terlambat mereka.
Kebayang olehku andai saja aku masuk, tentu aku akan berdiri sendirian di belakang karena menjadi murid yang paling-paling terlambat. Tentu juga harus menerima hukuman lebih, dari para guru BP yang kebetulan berkumpul semua. Cubitan khas dari bapak dengan perut terseksi sesekolahan,jepretan rotan dikaki dari bapak yang memiliki kepala terlicin sedunia(yang terkadang digunakan sebagai cermin oleh guru-guru yang lainnya saat mereka ingin bercukur), serta omelan panjang dari ibu BP (yang mungkin selalu melatih dirinya dengan makan cabai sekilo dalam sehari hanya untuk menghasilkan omelan yang sepedas itu).
Aku putuskan menunda masuk dan memikirkan cara lain buat masuk tanpa di hukum.
Setelah upacara selesai dan semua murid kembali masuk ke ruangan nya masing-masing tapi aku masih menunggu diluar gerbang.
Aku pun menitipkan tasku pada pemilik kedai kopi di depan sekolahan dan menyelipkan sebagian buku di balik seragamku. Dengan meninting lembaran kertas fotocopy, aku berjalan perlahan mencoba untuk menembus benteng pertahanan sekolah( post satpam) sembari memperhatikan kondisi di sekitar.
Para guru BP terlihat sibuk menghukum para siswa yang terlambat tadi, hal ini sungguh mempermudahku dalam menyelesaikan tugas Negara ini.
‘hei.. dari mana kamu?’ Tanya satpam sekolahku.(ingin rsanya mengeluarkan senjata canggih dan membuatnya membeku seperti yang dilakukan agen-agen rahasia dalam film barat).
‘baru dari tempat fotocopy pak?’ jawabku sambil menunjukkan kertas fotocopy yang ku pegang tadi(sebenarnya itu kertas ulangan ppkn minggu lalu). Ia pun percaya tanpa rasa curiga, mungkin karena melihat wjahku yang polos, baik hati, tampan ,menawan, jujur dan kelihatan berwibawa. (He.. hee…NARSIS)
Aku pun berjalan tenang sembari tersenyum karena telah berhasil masuk.
Namun ternyata Tuhan berkehendak lain.
‘ fendi!!’terdengar suara memanggil dari arah belakangku.
mmm.. ternyata dari guru BP berperut seksi.
‘ kamu terlambat kan! Jangan berharap bisa ngelabui bapak. Sini kamu!’
Aq pun terdiam dan tak mampu membela diri sebab ia lebih tau akan kebiasaan terlambatku. Selanjutnya akupun mendapatkan hukuman dari masing-masing guru BP.
Begitulah seterusnya rutinitas yang ku jalani ditiap pagi hingga akhir masa sekolahku. Untungnya kebiasaan itu sekarang telah hilang. bukan kebiasaan telatnya yang ku takutkan, tapi kebiasaan mengumpulkan sampah di tiap pagi.
Gak kebayang kalo sekarang tanpa sadar ngumpulin sampah-sampah di sepanjang jalan menuju tempat kerjaku( mmm… dikirain PU pulak aku nanti?)


Thnk’s buat enok dan riki yang tanpa sengaja maupun tanpa disadari,mrk tlah ikut membantu mengembangkan kebiasaan telatku( hee… jangan ditiru ya?)

Nur efendi